Syarat menjadi Saksi nikah dalam islam, simak yuk!

pernikahan

Pernikahan dalam islam memiliki nilai kesakralan yang sangat tinggi. Sehingga tidak bisa anggap remeh. Baik pada syarat, rukun maupun proses penyelenggaraannya.

Nah, bagia anda yang menikah. Salah satu rukun nikah yang harus disiapkan adalah saksi yang adil. Lalu, apa saja syarat yang harus di penuhi oleh saksi tersebut.

Mari kita bahas sama-sama.

Untuk menjadi saksi pernikahan dalam islam, setidaknya anda harus memenuhi 6 syarat utama. Jika ini tidak terpenuhi, maka anda tidak bisa menjadi saksi.

Setidaknya ada 2 orang saksi yang harus disiapkan. Peliknya, tidak semua orang yang bisa dijadikan saksi dalam sebuah pernikahan.

Ini kami sampaikan agar teman-teman tidak menganggap remeh pernikahan. Jika ini tidak dipenuhi, maka resikonya proses pernikahan dianggap tidak sah.

Dibawah ini adalah beberap syarat saksi nikah menurut islam.

Beragama Islam

Tidak ada perbedaan pendapata dari kalangan ulama terkait dengan syarat saksi yang pertama ini. Saksi harus beragama islam, anda tidak bisa mengangkat saksi dari kalangan agama lain, walaupun mereka keluarga dekat.

Harap hati-hati pada bagian ini. Karena ini menyangkut sah atau tidaknya nikah anda.

Ini tidak berbeda dengan wali hakim, baik dari pemerintah maupun yang berasal dari luar, seperti yang banyak ditawarkan seperti Jasa penghulu nikah, mereka juga harus beragama islami. Tidak bisa tidak.

Baligh

Baligh atau dewasa adalah salah satu syarat wali nikah. Karena itu anak kecil walau sudah tamyiz tidak boleh jadi saksi nikah. Ukurannya adalah kemampuan berpikir dan bertindak secara sadar dan baik, dilansir laman jabar.kemenag.go.id.

Berakal sehat

Maknanya adalah orang tersebut tidak sedang mengalami penyakit jiwa atau gila, yang menghilangkan akalnya saat itu.

Merdeka

Merdeka maknanya tidak menjadi budak dari orang lain, karena budak tidak bisa bertindak sendiri dan ada di bawah kekuasaan tuannya.

Untuk syarat ini sebenarnya sudah tidak ada lagi untuk saat ini. Karena di dunia sudah tidak ada lagi tindakan perbudakan.

Laki-laki

Jumhur ulama dari mazhab Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah mensyaratkan saksi nikah harus lelaki.

Adil Imam Asy-Syafi‘i meriwayatkan hadits perihal adil ini, “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali yang mursyid. Dijelaskannya, maksud mursyid dalam hadits tersebut adalah adil dan tidak fasik.” Sementara syarat lain yakni bisa melihat dan mendengar, ulama Syafiiyah banyak sepakat bahwa orang buta tidak boleh menjadi saksi nikah. Menurut Sayyid Sabiq, dalam kitab Fiqh Sunnah jilid II, menyebutkan:

“Disyaratkan pada saksi berakal, baligh, mendengarkan perkataan orang yang berakad serta memahami tentang maksud akad perkawinan.”