Sat. Jan 29th, 2022

Baileo merupakan rumah adat Maluku yang merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang memiliki arti sangat penting bagi masyarakat Maluku.  Sesuai dengan namanya, rumah adat baileo lebih dimanfaatkan sebagai balai atau tempat bagi warga masyarakat untuk bermusyawarah, melakukan pertemuan dan juga acara adat.

Meskipun baileo bukan difungsikan sebagai tempat tinggal namun keberadaannya mencerminkan adat dan budaya Maluku dengan berbagai makna filosofi di dalamnya.  Secara umum rumah baileo berfungsi sebagai tempat pertemuan dan musyawarah antara masyarakat setempat dengan dewan rakyat.

Fungsi dari rumah baileo tidak hanya terbatas sebagai balai pertemuan saja tetapi juga sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka yang sangat berharga.

Sesuai dengan fungsinya, rumah baileo dibangun dengan ukuran yang cukup luas dengan bentuk rumah panggung.  Konsep rumah panggung pada rumah baileo dibuat tanpa dinding dengan tiang penyangga yang tidak terlalu tinggi.  Tiang ditanam di dalam tanah dengan posisi yang berjajar.

Sementara untuk bagian lantainya juga cukup luas dengan susunan papan kayu yang menggunakan teknik kunci.  Dengan teknik ini rumah adat baileo tidak menggunakan paku sebagai perekatnya.  Meski begitu dengan teknik kunci lantai rumah tetap kokoh dan tidak menimbulkan suara.

Dengan bentuk rumah panggung, rumah baileo juga dilengkapi dengan tangga yang berjumlah 3 buah, yaitu pada bagian depan rumah, sisi sebelah kiri, dan bagian belakang.  Sementara untuk memperindah tampilan, rumah baileo dilengkapi dengan dekorasi yang kental dengan budaya Maluku yang sarat akan makna filosofi.

Berikut ini adalah beberapa makna filosofi dari bangunan rumah baileo:

Yang pertama adalah bangunan rumah tanpa dinding yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat.  Masyarakat Maluku meyakini bahwa roh para leluhur akan lebih mudah untuk memasuki rumah baileo jika dibangun tanpa dinding.

Selain itu, rumah tanpa dinding pada bangunan juga menjadi simbol adanya sifat terbuka sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak.  Tidak adanya dinding pada rumah baileo juga memungkinkan masyarakat setempat untuk mengikuti dan menyaksikan secara langsung pelaksanaan upacara adat.

Yang kedua adalah jumlah tiang penyangga yang digunakan untuk menopang bangunan rumah panggung baileo.  Biasanya jumlah tiang pada rumah adat ini ada 9 buah yang merupakan representasi dari banyaknya jumlah marga yang tinggal di wilayah rumah baileo tersebut didirikan.

Yang ketiga adalah tiang siwa lima yang merupakan tiang tambahan pada rumah baileo.  Dimana rumah adat ini dilengkapi dengan tiang tambahan pada sisi sebelah kiri dan kanannya yang masing-masing berjumlah lima buah tiang.  Tiang siwa lima menjadi simbol adanya persatuan dari desa-desa di wilayah Maluku.

Yang keempat adalah dekorasi rumah baileo yang dihiasi dengan beberapa ornamen khas Maluku dengan makna simbolik di dalamnya.  Salah satunya adalah ornamen berbentuk dua ayam yang saling berhadapan dan diapit oleh anjing.  Ornamen ini menjadi simbol adanya perdamaian dan kemakmuran.

Sementara ornamen berbentuk matahari, bulan, dan bintang pada rumah baileo dilukis dengan warna merah, kuning, dan hitam.  Ornamen ini bukan hanya berfungsi sebagai hiasan saja tetapi juga menyimbolkan  bahwa rumah adat ini senantiasa siap untuk menjaga keutuhan hukum adat yang ada.

Yang kelima adalah desain atap yang dibuat lebih rendah dari langit-langit rumah.  Hal ini memilili makna filosofi agar setiap tamu yang memasuki rumah baileo membungkuk dan menundukkan kepala yang menjadi bentuk penghormatan kepada aturan dan hukum adat yang berlaku.

Sumber : https://nyero.id/